Sabtu, 23 Maret 2013

Tugas 1. Ilmu Sosial Dasar sebagai Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU)



Tujuan dari ISD (Ilmu Sosial Dasar)

Pada hakikatnya Ilmu Sosial Dasar (ISD) membahas mengenai sebuah hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan ini dapat terwujud melalui adanya kenyataan sosial dari sinilah yang menjadi titik perhatiannya. Dengan demikian Ilmu Sosial Dasar memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi dan mengatasi gejala-gejala sosial seperti daya tanggap, persepsi, dan penalaran kita. Ilmu sosial bukanlah suatu bidang keahlian ilmu-ilmu sosial tertentu, seperti politik, antropologi dan sebagainya, tetapi menggunakan pengertian-pengertian atau materi dasar yang berasal dari berbagai bidang ilmu sosial seperti yanh telah disebutkan di atas sebelumnya.

Sebenarnya Ilmu Sosial Dasar bertujuan untuk membantu mengembangkan wawasan pemikiran dan kepribadian agar kita memiliki pemikiran yang realistis dan pandangan yang lebih jauh ke depan. Terutama bagi para mahasiswa/i dituntut untuk lebih memiliki pemikiran yang luas, kritis, dan berpendapat tapi harus dapat dipertanggungjawabkan, serta sikap yang santun.

3 kelompok Ilmu Pengetahuan

Umumnya ilmu pengetahuan dikelompokan menjadi tiga yaitu ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan budaya atau lebih umum disebut ilmu pengetahuan humaniora. Pengelompokan ilmu pengetahuan ini yang mendasari pengembangan Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar.

-   Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang membahas tentang alam seperti, fisika, kimia, biologi,astronomi, botani dll.
-    
    Ilmu sosial dasar (social science) adalah ilmu yang mempelajari tentang social seperti, sosiologi, ekonomi, politik, antropologi sejarah, psikologi, geogrofi dll.
-          Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan, adat istiadat, atau kebiasaan manusia dalam suatu daerah tertentu seperti, bahasa, agama, kesusastraan, kesenian dll.

MASALAH SOSIAL

Seperti telah kita ketahui, bahwa manusia merupakan makhluk social. Manusia pasti akan selalu dihadapkan pada berbagai masalah sosial. Masalah sosial pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri karena masalah sosial adalah akibat dari adanya sebuah interaksi. Masalah-masalah sosial pada setiap masyarakat manusia berbeda satu sama lain karena adanya tingkat masyarakat, kebutuhan, dan sebagainya.
Masalah sosial biasanya berkaitan dengan nilai-nilai moral dan pranata-pranata sosial, serta interaksi manusia itu sendiri. Masalah sosial pada umumnya atau oleh masyarakat diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum merupakan masalah sosial. Tetapi para ahli menilai masalah sosial merupakan suatu keadaan atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat berdasarkan sudi mereka yang memiliki sifat dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Contoh Kasus :
 
CONTOH DARI MASALAH SOSIAL
Astaga, 900.000 Sarjana Menganggur!
Penulis : R Adhi Kusumaputra | Rabu, 7 Oktober 2009 | 17:33 WIB
Ilustrasi sarjana pengangguran 

BOGOR, KOMPAS.com — Sebanyak 900.000 sarjana di Indonesia dinyatakan sebagai pengangguran terdidik, kata Direktur Utama (Dirut) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Agus Martowardojo di Bogor, Rabu (7/10).
Angka 900.000 pengangguran tersebut terbilang sangat fantastis karena berasal dari kelompok masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi. Angka tersebut bisa jadi ibarat permukaan gunung es, yakni hanya muncul di permukaannya dan angka sesungguhnya jauh lebih besar.
"Sarjana nganggur yang tercatat sebanyak 900.000 orang. Ini belum termasuk sarjana pengangguran terselubung," papar Agus Martowardojo.
Tingginya populasi sarjana yang menganggur tersebut membuat daftar pengangguran di Indonesia semakin banyak. Pasalnya, yang dinyatakan pengangguran terbuka mencapai angka yang sangat fantastis yaitu sembilan juta orang.
"Masalah pengangguran perlu kita sikapi bersama agar tidak menambah berat beban negara ini ke depan," imbuhnya.
Karena itu, Agus mengajak agar para pemangku kepentingan bahu-membahu mengatasi persoalan ini secara perlahan-lahan. Caranya yakni dengan menumbuhkan minat berwirausaha. Bila angka wirausaha meningkat maka pengangguran dengan sendirinya akan berkurang.
"Wirausaha akan menciptakan lapangan kerja baru. Semakin banyak peminat wirausaha akan semakin baik bagi upaya penanggulangan pengangguran," katanya.
Sumber :
Antara
Editor :
ksp

Opini :
Permasalahan sosial terjadi di mana-mana di penjuru Tanah Air. Dalam penanganannya tidak ada diskriminatif. Perhatian diberikan sama, tanpa membedakan asal usul, suku, agama, dan sebagainya. Pemerintah menginginkan bagaimana warga yang mempunyai masalah sosial bisa hidup sejahtera dan bermartabat.

Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka
sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Suatu
krisis sosial ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya
angka kenakalan remaja, melonjaknya jumlah anak jalanan atau preman, dan
besarnya kemungkinan untuk terjadi berbagai kekerasan sosial yang senantiasa
menghantui masyarakat kita.

Bagi banyak orang, mendapatkan sebuah pekerjaan seperti mendapatkan harga
diri. Kehilangan pekerjaan bisa dianggap kehilangan harga diri. Walaupun
bukan pilihan semua orang, di zaman serba susah begini pengangguran dapat
dianggap sebagai nasib. Seseorang bisa saja diputus hubungan kerja karena
perusahaannya bangkrut. Padahal di masyarakat, jutaan penganggur juga antri
menanti tenaganya dimanfaatkan.

Besarnya jumlah pengangguran di Indonesia lambat-laun akan menimbulkan
banyak masalah sosial yang nantinya akan menjadi suatu krisis sosial, karena
banyak orang yang frustasi menghadapi nasibnya. Pengangguran yang terjadi
tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan
juga menimpa orangtua yang kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya
tutup. Indikator masalah sosial bisa dilihat dari begitu banyaknya anak-anak
yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi pengamen, pedagang asongan maupun
pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi yang kehilangan
kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik.

Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara
kita adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal
sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka
kelabakan dan tidak bisa berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di
sektor informal. Justru orang-orang yang kurang berpendidikan bisa melakukan
inovasi menciptakan kerja, entah sebagai joki yang menumpang di mobil atau
joki payung kalau hujan. Juga para pedagang kaki lima dan tukang becak,
bahkan orang demo saja dibayar. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika banyak
para penganggur yang mencari jalan keluar dengan mencari nafkah yang tidak
halal. Banyak dari mereka yang menjadi pencopet, penjaja seks, pencuri,
preman, penjual narkoba, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit mereka yang
dibayar untuk berbuat rusuh atau anarkis demi kepentingan politik salah satu
kelompok tertentu yang masih erat hubungannya dengan para pentolan Orba. Ada
juga yang menyertakan diri menjadi anggota laskar jihad yang dikirim ke
Ambon dengan dalih membela agama. Padahal di sana mereka cuma jadi perusuh
yang doyan menjarah, memperkosa, dan membunuh orang-orang Maluku yang tidak
berdosa. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh pemerintah jika krisis
sosial tidak ingin berlanjut terus.

Cara Mengatasi Pengangguran
Untuk menghindari akibat buruk pengangguran di atas, diperlukan
beberapa cara untuk mengatasi pengangguran.
  • Pendidikan gratis bagi yang kurang mampu
  • Pemerintah sebaiknya menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih
  • Masyarakat dihimbau agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri dan orang lain
  • Mendirikan tempat-tempat keterampilan pelatihan, seperti menjahit dll
  • Pemerintah diharapkan mendirikan suatu lembaga bantuan kredit
  • Pelajar ataupun mahasiswa/i perlu diberi pendidikan Ilmu Pengetahuan. Salah satunya adalah menjadikan Ilmu Sosial Dasar sebagai Mata Kuliah Dasar Umum yang mampu untuk membantu mengembangkan wawasan pemikiran dan kepribadian agar kita memiliki pemikiran yang realistis dan pandangan yang lebih jauh ke depan untuk menyelesaikan masalah-masalah social yang ada di Indonesia ini.
Sumber :







Selasa, 29 Januari 2013

1. Masyarakat pedesaan dan Masyarakat perkotaan


contoh kasus Masyarakat Pedesaan

Masyarakat Desa Lebih Taat Bayar Pajak


BANTUL, KOMPAS.com - Dibandingkan masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan di Bantul ternyata lebih taat membayar pajak. Hal tersebut terlihat dari tingginya realisasi pajak bumi dan bangunan atau PBB pedesaan per 30 September yang mencapai 129,8 persen sementara PBB perkotaan hanya 54 persen.
PBB pedesaan tercatat Rp 1,7 miliar sementara targetnya Rp 1,3 miliar. Untuk PBB perkotaan dari target Rp 14,2 miliar baru terealisasi Rp 7,7 miliar
PBB pedesaan tercatat Rp 1,7 miliar sementara targetnya Rp 1,3 miliar. Untuk PBB perkotaan dari target Rp 14,2 miliar baru terealisasi Rp 7,7 miliar. "Angka-angka tersebut menjadi gambaran ternyata masyarakat yang berada di wilayah pedesaan lebih taat membayar pajak," kata Muhammad Barried, Kepala Seksi Perencanaan Pendapatan Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Bantul , Rabu (6/10).
Menurutnya, secara keseluruhan realisasi PBB di Bantul per 30 September baru mencapai 60,6 persen. Bagi yang belum membayar masih diberikan kelonggaran waktu hingga tanggal 29 Oktober. Setelah itu tagihan PBB akan dikenai denda sebesar 2 persen per bulan.
Editor :
R Adhi KSP
 
 http://regional.kompas.com/read/2010/10/06/20321866/Masyarakat.Desa.Lebih.Taat.Bayar.Pajak.
 
 contoh kasus Masyarakat Perkotaan

Masalah Sosial Dalam Masyarakat
Perkelahian antarpelajar sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Perkelahian tersebut tidak hanya menggunakan tangan kosong atau perkelahian satu lawan satu, melainkan perkelahian bersenjata, bahkan ada yang menggunakan senjata tajam serta dilakukan secara berkelompok. Banyak korban berjatuhan, bahkan ada yang meninggal dunia. Lebih disayangkan lagi, kebanyakan korban perkelahian tersebut adalah mereka yang justru tidak terlibat perkelahian secara langsung. Mereka umumnya hanya sekadar lewat atau hanya karena salah sasaran pengeroyokan. Kondisi ini jelas sangat mengganggu dan membawa dampak psikis dan traumatis bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Pada umumnya mereka menjadi was-was, sehingga kreativitas mereka menjadi terhambat. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian dari semua kalangan sehingga dapat tercipta suasana yang nyaman dan kondusif khususnya bagi masyarakat usia sekolah.

Data yang dihimpun Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Metro Jaya menunjukkan bahwa jumlah apalagi persentase pelajar yang terlibat tawuran tidaklah besar. Namun, dari segi kualitas, kasus yang terjadi sudah membahayakan, baik bagi para pelajar maupun masyarakat lainnya. Pemicu tawuran sering sangat sepele seperti saling mengejek, membela teman yang punya masalah pribadi dengan pelajar di sekolah lain, atau pemalakan. Namun, kenapa hal-hal yang sepele tiba-tiba bisa memicu agresivitas dan keberingasan pelajar yang sama sekali tak mencerminkan "budaya keterpelajarannya"?

Jawaban tentu tak pernah tunggal atau hitam putih. Para ahli yang telah mengkaji masalah ini hampir sepakat bahwa akar masalah tawuran pelajar disebabkan oleh banyak faktor. Penyebab pada satu kasus tidak selalu sama dengan penyebab pada kasus yang lain. Untuk itu ada baiknya kita memahami berbagai sumber masalah yang mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa perilaku tawuran tersebut dapat terjadi.

Pertama kondisi psikologis. Pelajar yang sedang menempuh pendidikan di SLTP maupun SLTA, bila ditinjau dari segi usianya, sedang mengalami periode yang sangat potensial bermasalah. Periode ini sering digambarkan sebagai storm and drang period (topan dan badai). Dalam kurun ini timbul gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Dari situasi konflik dan problem ini remaja tergolong dalam sosok pribadi yang tengah mencari identitas dan membutuhkan tempat penyaluran kreativitas. Jika tempat penyaluran tersebut tidak ada atau kurang memadai, mereka akan mencari berbagai cara sebagai penyaluran. Salah satu eksesnya, ya itu tadi, berkelahi.

Kedua masalah yang bersumber dari manajemen rumah tangga yang tidak efektif Pola asuh yang tidak tepat (pola asuh keras menguasai maupun pola membebaskan) serta hubungan yang tidak harmonis antaranggota keluarga dapat menyebabkan anak tidak betah di rumah dan mencari pelampiasan kegiatan di luar bersama teman-temannya. Hal ini tidak jarang menyeret mereka kepada pergaulan remaja yang tak sehat, seperti perkelahian.

Ketiga masalah yang bersumber dari kerawanan sekolah. Setidaknya ada faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan sekolah. Pertama adalah faktor fisik sekolah seperti berdekatan dengan pusat-pusat hiburan/keramaian, kurangnya sistem pengamanan lingkungan, serta tidak tersedianya sarana yang membuat anak-anak betah di sekolah. Kedua adalah faktor psikoedukatif, yaitu ketertiban dan kelancaran proses belajar-mengajar di sekolah. Ketiga adalah faktor efektivitas interaksi edukatif di sekolah. Supriyoko (1995) meneliti, kontribusi efektif faktor lingkungan sekolah terhadap kenakalan pelajar mencapai 13,26%. Ada stereotipe bahwa sekolah-sekolah tertentu punya tradisi tawuran dan sekolah-sekolah tertentu menganggap siswa sekolah lain sebagai "lawan". Tawuran yang terjadi umumnya bukan didasarkan pada permusuhan pribadi, tapi lebih karena sifatnya yang sudah turun-temurun. Dalam beberapa kasus, tawuran bisa juga terjadi karena adanya penyerangan atau pemalakan (perampasan) atas individu suatu sekolah lain yang kemudian memancing reaksi balik.

Keempat faktor lingkungan masyarakat. Belakangan budaya kekerasan berkembang di masyarakat. Media cetak maupun elektronik punya andil yang besar. Aksi kekerasan telah menjadi menu utama berita yang mereka tampilkan. Tawuran pelajar sedikit banyak adalah hasil vicarious learning, yaitu proses belajar melalui peniruan perilaku model yang dilihat dan diidolakan. Dalam beberapa contoh para pelajar menganggap cara kekerasan cukup efektif untuk mencapai tujuan.
Kelima tindakan kurang antisipatif dari aparat keamanan. Mereka sering tak ada atau kurang cekatan mengamankan daerah yang menjadi ajang tawuran. Dalam hal penegakan hukum, aparat keamanan kurang memiliki wibawa dan konsistensi untuk menindak para pelaku. Ada keraguan apakah para pelaku tawuran bisa dikategorikan sebagai tindak kriminal atau sekadar kenakalan biasa. Melengkapi identifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya tawuran pelajar dalam ilmu psikologi dikenal adanya teori psikogenis. Teori ini memandang fenomena tawuran pelajar - yang merupakan bagian dari kenakalan pelajar atau secara lebih luas penyimpangan perilaku remaja (delikuensi) - dapat saja merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal/sosial. Hampir senada dengan itu, teori sosiogenis yang banyak dikenal para sosiolog menjelaskan bahwa kasus tawuran pelajar dapat terjadi murni sosiologis atau psikologis. Ini adalah akibat daripengaruh struktur deviatif, tekanan kelompok peranan sosial, dan internalisasi simbolis yang keliru.

Atas pemahaman terhadap beberapa kemungkinan sumber masalah tersebutdi atas, ada beberapa alternatif solusi yang perlu ditempuh sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kasus tawuran pelajar.

Pertama, keluarga perlu melakukan refleksi atas perannya sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Upaya-upaya yang bisa dilakukan misalnya:
-   memberikan bekal pendidikan agama yang cukup;
- menciptakan suasana rumah yang menyenangkan sehingga seluruh anggota
keluarga menjadi betah;
- memberikan perhatian yang cukup pada anak sehingga mereka tidak
mencari perhatian di luar rumah.

Kedua, perlu ada reorientasi pendidikan di keluarga dan lebih-lebih di sekolah. Pendidikan yang baik adalah yang bisa mengembangkan secara seimbang tiga potensi, yaitu berpikir, berestetika, dan berkeyakinan kepada Tuhan. Proses pendidikan hendaknya menempatkan anak sebagai subyek dan secara optimal dikembangkan untuk lebih kreatif, berinisiatif, dan ada ruang gerak untuk berpendapat.

Ketiga, telah disadari bahwa salah satu faktor yang mendorong tawuran adalah makin tidak adanya ruang/lahan yang dapat dipergunakan untuk berolahraga. Tempat-tempat tersebut perlu untuk penyaluran agresivitas remaja, mengingat gelanggang remaja yang ada sudah tidak lagi mampu menampung kebutuhan. Oleh karena itu, untuk pendirian suatu sekolah baru perlu dipersyaratkan adanya ruang untuk kegiatan olahraga.

Keempat, meskipun lokasi terjadinya tawuran tidak berada di lingkungan sekolah, dan waktu terjadinya sebelum atau seusai jam pelajaran, secara langsung ataupun tidak sekolah juga mempunyai andil. Paling tidak secara moral sekolah harus ikut bertanggung jawab atas terjadinya tawuran yang melibatkan anak didiknya. Ada beberapa saran tindakan yang dapat dilakukan pihak sekolah. Sekolah harus selalu menjaga agar ketertiban dan kelancaran proses belajar-mengajar serta interaksi edukatif dapat dijalankan melalui manajemen kelas dan sekolah yang efektif. Basry Siregar (1991) dalam penelitiannya menemukan bahwa siswa yang terlibat tawuran umumnya berasal dari sekolah yang kurang berwibawa dan tidak tegas menghadapi pelanggaran tata tertib sekolah. Sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola penanggulangan dan penanganan kasus. Ada baiknya diadakan pertandingan atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah yang secara "tradisional bermusuhan" itu.

Kelima, Direktorat Bimas Polri telah mempunyai data yang cukup lengkap tentang kasus tawuran berikut peta sekolah-sekolah rawan. Demikian juga Direktorat Pembinaan Kesiswaan Depdikbud. Bahkan mereka telah membentuk kelompok kerja penanggulangan tawuran pelajar. Kalau benar mereka sudah punya data, peta, dan bahkan jadwal tawuran di ibu kota, kiranya hal ini bisa menjadi pegangan aparat keamanan untuk mencegahnya. Tinggal bagaimana kesiapan mereka memberikan rasa aman kepada masyarakat tanpa harus menunggu laporan dari bawah.
Keseluruhan alternatif solusi tersebut hendaknya dapat dilakukan secara terpadu, komprehensif, dan berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa kita tak boleh menganggap akar masalah tawuran pelajar ada pada diri individu siswa yang terlibat yang dipengaruhi lingkungannya. Bagaimana pihak lain mesti bertindak?

Sumber :

http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Penyakit_Sosial_Sebagai_Akibat_Penyimpangan_Sosial_dan_Upaya_Pencegahannya_8.1_%28BAB_6%29
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/04/06/0199.html