Selasa, 02 Juli 2013

Manusia dan Harapan



Pengertian Harapan


Harapan adalah awal dari sebuah alur hidup. Alur tersebut tidak akan pernah selesai dengan tuntas dan menghasilkan apa yang diharapkan jika tidak ada upaya-upaya yang jelas untuk mewudujkan harapan tersebut.

Harapan adalah keinginan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Setiap manusia memiliki harapan yang merupakan cita-cita di masa yang akan datang. Manusia yang tidak memiliki harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Harapan harus sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuannya. Manusia harus merasa yakin atas usahanya mewujudkan harapan agar dapat berhasil sesuai dengan yang di harapkan.

Penyebab manusia mempunyai harapan adalah dorongan kodrat manusia sebagai makhluk sosial.Dorongan kodrat adalah sifat,keadaan atau pembawaan alamiah sejak manusia di ciptakan.Dorongan itulah yang menyebabkan manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup dan untuk memenuhinya manusia harus bekerjasama dengan orang lain.

Macam-macam Harapan

Menurut Abraham Maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam. Lima macam kebutuhan manusia itu merupakan lima harapan manusia. Lima macam harapan itu ialah :
1.      Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
2.      Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
3.      Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
4.      Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau di akui lingkungan.
5.      Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self actualization).

Alasan Manusia Mempunyai Harapan

Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga atau sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari interaksi hidup. Ditengah – tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik / jasmani maupun mental / spiritualnya. 

A. Dorongan kodrat.
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan.

B. Dorongan kebutuhan hidup.
Sudah kodrat pula bhawa manusai mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusai bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, naik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya. Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

C. Kelangsungan hidup.
Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir. Sandang , semula hanya berupa perlindungan/keamanan, untuk melindungi dirinya dari cuaca. Tetapi dalam perkembangan hidupnya, sandang tidak hanya sebagai perlindungan keamanan, tetapi lebih cenderung kepada kebutuhan lain.

D. Keamanan.
Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak serorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral orang lain dapat memberi rasa aman. Walaupun secara fisik keadaan dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.

E. Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai.
Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban.

F. Status.
Setiap manusia membutuhkan status. Status itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia. Harga diri seseorang melekat pada status orang itu.

G. Perwujudan cita-cita.
Selanjutnya manusai berharap diakui keberadaanya sesuai dengan keahliannya atau kepangkatannya atau profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

Syarat Berharap Sesuatu (Raja’)

PERLU ditegaskan bahwa seseorang yang mengharapkan sesuatu, maka ia dituntut melakukan 3 hal sebagai sebuah konsekuensi logisnya, yaitu:
1.     Ia harus mencintai sesuatu itu
2.    Ia takut dan khawatir tidak mendapatkan sesuatu itu
3.    Ia harus menggerakkan segala daya upaya untuk mendapatkan sesuatu itu

Jika pengharapannya tidak diikuti sama sekali dengan melakukan 3 hal tersebut, maka ini masuk kategori “tamanniy” (berangan-angan).
Pengharapan adalah satu hal dan tammaniy adalah hal yang lain. Semua orang yang berharap sesuatu takut luput dari sifat itu. Orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan sesuatu dan takut tidak mendapatkannya akan mempercepat jalannya. Orang yang segera dalam menempuh perjalanan akan cepat sampai di tempat tujuan.

          Rasulullah SAW. Bersabda,
          “Barangsiapa yang takut kepada Allah, ia akan mempercepat perjalannya dan yang barangsiapa yang cepat berjalan, ia akan sampai tujuan. Ketahuilah! Sesungguhnya balasan Allah itu mahal. Ketahuilah! Sesungguhnya balasan Allah adalah surga.” (HR at-Tirmidzi)

          Sebagaimana Allah memberikan predikat pengaharapan kepada orang yang beramal soleh, ia juga memberikan predikat takut kepadaorang yang melakukan amal soleh. Dari sini bias diketahui bahwa pengharapan dan rasa takut (yang bermanfaat) adalah 2 hal yang seiring dengan amal soleh. Sebagaimana yang difirmankan Allah.

          “Sesungguhnya orang-orang yang verhati-hati karena takut (azab) Tuhan mereka, dan beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu  bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu  bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang memperolehnya.” (Al-Mu’minuun:57-61)

Husnuzhan dalam Pengharapan

Husnuzhan adalah raja’, pengharapan. Pengharapan yang benar adalah yang merangsang melakukan ketaatan dan menghindarkannya dari perbuatan maksiat. Sebaliknya, barangsiapa kemalasannya adalah pengharapan dan pengharapannya adalah kemalasan dan pengabaian atas hak-hak Allah, sesungguhnya ini adalah sikap ghurur. Logikanya, bila seseorang berharap menuai panen dari ladangnya, lantas ia hanya membiarkannya, tidak menanam apa-apa, tanpa melalui proses perawatan dan hanya bermodal “prasangka baik”, maka semua orang akan mengatakannya “orang yang paling bodoh”.

Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah…” (al-Baqarah: 218)

          Renungkan ayat ini, bagaimana Allah mendudukkan pengharapan mereka sebagai satu kesatuan dengan amal ketaatan mereka. Sebaliknya orang-orang yang terperdaya akan mengatakan bahwa ahli maksiat dan pengabai hak-hak Allah adalah orang-orang yang berharap rahmat Allah.

          Kesimpulannya, sesungguhnya pengharapan dan husnuzhan harus dibarengi dengan menjalankan sebab-sebabnya yang mendatangkan pahala Allah dan kemuliaan-Nya. Sesudah seorang hamba melakukan semua itu ia berharap dann husnuzhan agar apa yang ia lakukan bermanfaat baginya dan agar ia dihindarkan dari hal-hal yang membatalkan amalnya.

Sumber :
(Dikutip dari buku yang berjudul : Al-Jawabul Kafi Liman Saala’Anid Dawaaisy-syafi, Penulis : Ibnu Qayyim al-Jauziyah)